Cerita Sex Anak Buto Edan

Cerita Sex Anak Buto Edanby adminon.Cerita Sex Anak Buto EdanArimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 19 19. Anak Buto Edan ~~~oOo~~~ @QueenArimbi Aku cinta dia #Jujur #CintaMati Wanda terpaku nanar menatap layar handphone-nya. Tweet terbaru Arimbi membuat-nya trenyuh mengelus dada. Wanda tau untuk siapa Tweet itu. Wanda juga tau siapa cinta mati Arimbi sebenarnya. Sekarang ini Arimbi pasti sedang menangis. Bertemu Bimo […]

multixnxx-Brown hair, Asian, Miniskirt, Upskirt, Blo-13 multixnxx-Brown hair, Asian, Skinny, Bikini, Pornsta-0 multixnxx-Brown hair, Asian, Skinny, Bikini, Pornsta-10Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 19

19.

Anak Buto Edan

~~~oOo~~~
@QueenArimbi

Aku cinta dia #Jujur #CintaMati

Wanda terpaku nanar menatap layar handphone-nya. Tweet terbaru Arimbi membuat-nya trenyuh mengelus dada. Wanda tau untuk siapa Tweet itu. Wanda juga tau siapa cinta mati Arimbi sebenarnya.

Sekarang ini Arimbi pasti sedang menangis. Bertemu Bimo dan Anita di rumah Septi tadi siang jelas merupakan pukulan telak buat Arimbi. “Yang sabar ya Bu.” Batin Wanda berdoa. Tanpa terasa mata pacar Revan itu mulai berkaca kaca. “Aku yakin kamu bisa… Kamu kuat kok Bu… Kuat.”

Sementara itu di kamar-nya, Arimbi kembali sibuk mengulas jejak jejak kenangan Bimo. Foto foto dalam Album bersampul biru di keluarkan semua dan di sebar rata di atas tempat tidur. Semua barang barang dari Bimo di kumpulkan semua. Sampai celana dalam bekas ketiban spermo Bimo dulu juga ada.

Bercak noda akibat mimpi basah Bimo itu juga masih terlihat sengaja tidak Arimbi cuci. Baginya itu adalah kenang kenangan sebagai tanda bahwa Bimo yang pertama. Bahwa Bimo yang memiliki segalanya, bahkan hati dan jiwanya.

“Aku udah nggak kuat lagi.” Jerit batin Arimbi akhirnya. “Iya… Aku udah nggak kuat.” Satu persatu bulir air mata mulai luruh menyapa pipi-nya.

“Aku udah nggak kuat ya Gusti…” Isak Arimbi akhirnya. Dengan berurai air mata, perlahan Arimbi merebahkan tubuh di atas hamparan kenangan itu. “Aku cinta kamu Bim.” Gumam-nya sambil menciumi celana dalam bekas noda Bimo.

Tenang… Sekilas Arimbi menemukan ketenangan. Damai… Namun semu dan hanya sementara. Setelahnya sakit itu malah semakin bertambah sakit. Kenyataan bahwa dia hanya bisa bercumbu dengan bayang bayang hampir membuat-nya gila.

“Hiks hiks hiks hiks…” Arimbi semakin terisak pilu. Satu persatu di ciumnya semua kenangan yang ada di sana, berharap tenang dan damai yang tadi sekilas sempat ada kembali lagi. Tapi percuma, semakin Arimbi mencoba malah semakin semu yang di rasa.

“Aku harus gimana…” Tiba tiba Arimbi meloncat turun dari tempat tidur-nya dan langsung terburu berlari keluar kamar. “Mau kemana Rim?” Tanya Bu Hana saat Arimbi sedang mengunci pintu kamar-nya.

“Ke Bimo.” Sahut-nya sambil menggeloyor meninggalkan Bu Hana yang menatap-nya heran.

“Ke Bimo?” Batin Bu Hana heran. Terlebih lagi saat sekilas melihat mata Arimbi yang sembab. “Kamu kenapa to Ndok?” Guman-nya sambil menggeleng pelan.

Sebut Arimbi gila atau memang dia benar benar sudah gila. Sepertinya pukulan telak tadi siang sudah membuat hati Arimbi benar benar bergeser salah. Atau malah kenangan kenangan itu yang menggerus sisa sisa kewarasan-nya sampai habis tanpa sisa. Entahlah…

Setengah berlari Arimbi menembus gerimis mengundang yang sedang turun. Sekilas Arimbi sempat ragu, tapi hanya sekilas dan kemudian dengan yakin menyelonong masuk ke rumah Bimo. “Malam Budhe…” Sapa Arimbi berusaha ramah ceria sambil mencium tangan Bu Sriati.

“Eh Arimbi.” Bu Sriati langsung tersenyum lebar melihat Arimbi akhirnya datang lagi. “Kok lama nggak ke sini sih?” Sambungnya sambil merengkuh dan memeluk Arimbi. Berkali kali Bu Sriati menciumi pucuk kepala Arimbi. “Kenapa? Bimo nakal lagi ya?” Tanya Bu Sriati begitu melihat mata sembab Arimbi.

Perlahan Arimbi melepaskan diri dari pelukan Bu Sriati. “Enggak kok Budhe.” Jawab Arimbi sambil berusaha tersenyum semanis mungkin. Senyum manis ajaib yang membuat Bu Sriati lebih sayang dengan dia dari pada Bimo, anak-nya sendiri.

“Malam Pakdhe.” Arimbi kemudian berganti mencium tangan Pak Edi yang sedang serius menonton Jodha Akbar.

“Eh malam Rim.” Sahut Pak Edi tanpa sedikitpun menengok Arimbi. Baginya, terlalu sayang melewatkan sedetik adegan dari sinetron India favoritnya itu. “Bimo di kamar noh…”

“Arimbi?” Bimo mengerutkan alis bingung mendengar sayup suara Arimbi di luar. “Ngapain dia kesini?” Setelah tiba tiba waktu itu, ini kali pertama Arimbi ke sini lagi, dan itu Aneh.

Belum sempat Bimo bisa mengurai apa dan kenapa, Arimbi sudah membuka dan berdiri di ambang pintu kamar-nya. “Bim…” Sapa Arimbi dengan tatapan sembab sayu dan degub jantung yang terlihat memburu.

Setengah ragu Bimo perlahan beranjak berdiri dari kursi meja belajar-nya. “A-ap…”

Belum kelar Bimo menjawab, Arimbi sudah keburu menghambur memeluknya. “Aku kangen Bim… Kangen…” Setengah berjinjit Arimbi langsung menciumi habis sekujur wajah Bimo. Masa bodo dengan malu, perduli setan dengan harga diri.

“Hei hei…” Bimo menahan dan perlahan melepas pelukan Arimbi. “Kamu kenapa sih? Kesambet kamu ya.”

Arimbi menggeleng pelan. “Aku kangen kamu.” Jawab-nya kemudian serak.

Bimo kembali mengerutkan alis bingung. “Kangen? Kenapa kangen?”

Sambil menunduk Arimbi perlahan kembali memeluk Bimo. Di benamkan wajah-nya dalam di dada bidang itu. Nyaman, dada itu adalah tempat ternyaman yang pernah ada. “Aku udah nggak kuat Bim.” Ujar Arimbi sambil kemudian terisak menangis. “Hiks hiks hiks… Nggak kuat.”

“Ta-tapi kan…”

“Please…” Arimbi menahan tangan Bimo yang hendak melepaskan pelukan-nya.

“Ta-tapi Rim.”

“Pleaseee…” Rajuk Arimbi lagi sambil mendongak menatap sayu manik mata Bimo. “Biarin gini bentar.”

Segeblek geblek-nya Bimo, dia tetap saja luruh menghadapi rajukan manja itu. Rajukan yang sebenarnya sudah hilang dan bahkan telah menggoreskan sakit di hatinya. Tapi… Jauh di dasar hati Bimo masih menyimpan itu. Menyimpan rasa walau hampir musnah terganti.

“Hadeeewh…” Bimo hanya bisa pasrah dan akhirnya membiarkan Arimbi memeluk-nya. Padahal berpelukan dengan Arimbi itu bukan ide yang bagus. Sakit yang dulu malah kembali sakit, tapi… Bimo juga tidak mampu mengacuhkan rajukan manja itu begitu saja. Bagaimanapun juga Arimbi pernah berarti, dan sekarang-pun masih tetap berarti, sedikit.

Dari celah pintu, Bu Sriati tersenyum lega melihat Bimo dam Arimbi berpelukan seperti itu. Hati Ibu Bimo itu juga senang tenyata mereka baik baik saja. Perlahan dengan hati hati Bu Sriati menutup pintu kamar itu hampir tanpa suara.

“Adu aduuh…” Tepat bersamaan, Anita tiba tiba merasa nyeri di dada-nya. “Kok sakit.” Gumam-nya sambil mengusap dada. Berkali kali Anita mengusap menepuk nepuk dada-nya, tapi rasa sakit itu terus ada dan bahkan malah semakin terasa.

Dan sama, Aditya tiba tiba juga merasa. Bukan dada-nya yang tiba tiba sakit, tapi relung hati-nya yang tiba tiba terasa kosong. Tidak tau karena apa, Aditya merasa dia seperti sendiri kehilangan dan tanpa arti. Rasa yang aneh dan belum pernah dia rasa sebelum-nya.

“Makasih ya Bim.” Ucap Arimbi sambil terus memeluk Bimo bahkan semakin erat.

“Iya…” Sahut Bimo serak. Asli Bimo bingung harus berbuat apa dan bagaimana. “Sorry Nit.” Jelas ini perselingkuhan dan penghianatan untuk Anita. Tapi menolak Arimbi dia juga tidak tega. Hasyuuuu…!

Tik tok tik tok tik tok… Sebentar suasana sepi hening hanya tinggal menyisakan detak jam dinding. Bimo sibuk bergulat bingung sendiri, sementara Arimbi asik menikmati kenyamanan yang telah lama hilang. Arimbi tidak ingin sedetik-pun melewatkan ketenangan yang nyata ini.

“Rim…” Ujar Bimo kemudian memecah sunyi.

Perlahan Arimbi mendongak menatap Bimo. “Apa?”

“Udah ya?”

Arimbi tidak menjawab dan hanya terus menatap Bimo tajam tepat di manik mata-nya. Perlahan mata sembab Arimbi kembali berkaca kaca. “Kenapa?” Tanya Arimbi akhirnya dengan suara serak menahan tangis.

“Kita nggak boleh kek gini Rim. Pleaseee…”

“Tapi aku udah nggak kuat Bim. Udah nggak sanggup.”

“Heeh…” Bimo mendengus lemah sambil perlahan mengusap lembut rambut panjang Arimbi. “Tolong Rim… Please… Aku sekarang sudah milik Anita.” Jujur Bimo berat mengatakan itu. Jelas sakit hati-nya, tapi ini harus. Mereka memang tidak bisa terus terusan bigini, move-on itu wajib hukum-nya.

Walau enggan, perlahan Arimbi akhirnya melepas pelukan-nya. “Iya… Maaf.” Ucap-nya sambil kemudian berlari keluar dari kamar Bimo. “Loh… Rim?” Arimbi terus berlari mengacuhkan panggilan Bu Sriati. Dia menangis, isak tangis-nya semakin sakit semakin pilu. Seperti langit malam ini, mendung gelap itu adalah hati-nya. Rintik gerimis itu adalah tangis-nya. Dan gemuruh guntur itu adalah jerit hati-nya.

~~~oOo~~~
“Peluk aku Bim… Peluk aku.”Beberapa hari ini Arimbi semakin gila. Malam jadi waktu yang paling Arimbi takuti saat ini. Karena ketika malam tiba, saat sepi dan sunyi mulai menyelimuti, rasa sakit di hatinya selalu terasa lebih sakit lagi. Semakin hari Arimbi semakin sakaw tercandu kenangan dan pelukan hangat itu.

“Aku cinta kamu.” Rintih-nya sambil meringkuk beralaskan semua kenangan Bimo.

Beberapa kali, saat benar benar sudah tidak sanggup lagi, Arimbi sempat ingin ke Bimo lagi dan memeluk bocah itu walau hanya sebentar. Toh harga diri Arimbi sudah tergadai. Tapi… Bertumbuk tumpuk tapi selalu mampu menahan langkah-nya untuk ke sana. “Aku sekarang sudah milik Anita.” Terlebih ucapan Bimo yang itu.

Sakit… Sakit di hatinya semakin bertumpuk tumpuk setiap terngiang ucapan itu. Ambang gila semakin terlihat nyata karena-nya. Menyesal… Penyesalan Arimbi kini lebih besar dari jagad raya. Menyesali keputusan gegabah yang kini malah menghancurkan-nya lembut seperti ini.

“Kamu nggak apa apa Rim?” Tanya Wanda khawatir dengan sahabat-nya itu. Wanda tau Arimbi sedang tertekan di ambang maksimal. Kantung mata-nya yang menghitam layu mengisyaratkan jelas itu. Pasti Arimbi tidak pernah bisa tidur.

“Aku nggak apa apa kok Nda.” Sahut Arimbi sambil memaksakan senyum di bibirnya.

“Hoalah Rim…” Wanda hanya bisa trenyuh melihat sungging senyum itu. Jangankan Wanda, siapapun bisa merasakan kesakitan yang teramat sangat dalam dari sunggingan senyum itu. Senyum palsu. “Mbok ya nggak usah maksa senyum to Bu.” Batin Wanda sambil mengurut dada.

“Rim…” Perlahan Arimbi menoleh. “Kalau udah nggak kuat lambaikan tangan.” Seloroh Wanda sambil mengusap punggung Arimbi.

Sekilas Arimbi tersenyum. Sedikit nyata kalai senyum Arimbi kali ini walau hanya tipis dan sekilas. “Emang kamu kira uji nyali dunia lain apa.”

Wanda tersenyum. Walau hanya sekilas, Wanda sudah cukup senang melihat Arimbi bisa menyunggingkan senyum itu. “Ya kali uji nyali…” Seloroh Wanda lagi.

Sebagai sahabat, bagaimana-pun caranya Wanda selalu berusaha membangkitkan senyum Arimbi walau hanya sekilas sekilas. Tapi kemampuan Wanda hanya cukup sampai di situ. Selepas sekolah, saat malam tiba, dia sudah tidak bisa berbuat apa apa. Bukan-nya Wanda tidak berusaha, tapi setiap malam handphone Arimbi selalu tidak aktif.

“Tenang Bu… Aku akan selalu ada dan berusaha. Kamu nggak bakal sendirian ngadepin ini.” Janji batin Wanda.

oOo
“Bimo.” Semakin lama, saat bersama di bonceng dan memeluk Aditya dari belakang rasanya semakin hambar. Bukan hanya sekedar hambar, tapi malah sakit iya. Tapi… Lagi lagi tapi yang membenamkan Arimbi terpaksa. Tapi bagaimana-pun juga, status Aditya tetap pacar-nya.

Seperti malam ini, di malam minggu yang katanya malam panjang malam yang asik buat pacaran, Arimbi malah merasa terasing dan berkalang sakit. Suasana romantis remang remang warung lesehan di bawah pohon beringin alun alun tidak mampu menyingkirkan sakit itu walau barang sejenak.

Dan sakit itu malah semakin terasa saat ada pengamen bersenjatakan ukulele menyanyikan lagu campur sari yang pas dengan perasaan saat ini.

Lorone loro ora koyo

wong kang nandang wuyung

Mangan ra doyan

Ra jenak dolan nang omah bingung

Mung kudu weruh

woting ati duh kangmas wong bagus

opo ora trenyuh

sawangen iki awakku sing kuru
Walau hanya terdengar sayup di kejauhan, tapi itu sudah cukup semakin membuat hati Arimbi lembut selembut lembut-nya. Ingin sebenarnya Arimbi menangis meraung raung meratapi nasib dan kebodohan-nya, tapi entah kenapa dia malah tidak sanggup untuk itu.

“Eh… Kok bengong Rim?” Tegur Aditya sambil mengusap punggung-nya.

“Oh enggak.” Arimbi sedikit tersentak. “Cuma lagi lihatin orang ngamen itu, kek-nya asik banget.” Sahut-nya sambil menunjuk pengamen di pojokan sana, di depan sepasang… “Oh shit… Itu kan Bimo ama Anita.” Batin Arimbi.

Klopo mudho leganono

nggonku nandhang bronto

Witing pari dimen mari nggonku ngloro ati

Aduh nyowo…

Duh duh kusumo

ora kroso opo pancen tego

Mbok mbalung janur

Paring usodo nggonku nandang wuyung
Bodoh! Arimbi mengutuk kenapa dia menunjuk-kan pengamen itu. Karena begitu melihat siapa yang sedang di ameni itu, Aditya malah melambai memanggil Bimo dan Anita bergabung. “Hoei Bim…” Aditya berteriak melambai memanggil Bimo. “Gabung sini.”

Dari jauh walau remang remang, Arimbi bisa melihat Bimo dan Anita tersenyum menyahut panggilan Aditya. “Jangan kesini… Jangan kesini.” Sekusyuk apapun Arimbi berdoa, nyatanya Bimo dan Anita malah beranjak menghampiri mereka. Mampus!

Klopo mudho leganono

nggonku nandhang bronto

Witing pari dimen mari nggonku ngloro ati

Aduh nyowo…

Duh duh kusumo

ora kroso opo pancen tego

Mbok mbalung janur

Paring usodo nggonku nandang wuyung
“Tega kamu Bim” Jerit hati Arimbi. Sisa sisa kekuatan-nya langsung lumer seiring setiap langkah Bimo dan Anita menghampirinya. “Hai Rim…” Terlebih sapa ramah Anita itu. Jelas seketika Arimbi : Game Over.

“Hai Nit.” Balas Arimbi walau terpaksa.

“Hai Rim… Dit.” Dengan santainya Bimo menyapa dan menyusul duduk di samping Aditya. Sementara Anita, entah kenapa dia malah memilih duduk di samping Arimbi. “Tumben kencan-nya di sini?” Tanya Bimo kemudian.

“Biasa juga di sini kali Bim.”

Untung… Wanda seperti-nya menepati janji-nya. Di saat seperti ini, Wanda dan Revan ujug ujug nongol entah dari mana. “Huidih… Dua manusia galon akur rupanya.” Seloroh Revan asal sambil bergambung bersama mereka.

“Huenak aja galon!” Sahut Bimo tidak terima.

“Haiyah guayamu coeg.”

“Hai Rim… Nit.” Setelah cipika cipiki, Wanda kemudian duduk lesehan menengahi Arimbi dan Anita. “Udah lama?”

“Baru aja gabung. Ya kan Rim.” Arimbi mengangguk pelan sambil tersenyum, terpaksa.

“Eh Dit.” Dengan tengil-nya Revan menyikut lengan Aditya. “Perasaan akhir akhir ini kita sering bersua gaes. Ente nggak trauma ama aku?”

“Hehehe…” Aditya merenges kecut. Jujur sebenarnya Aditya lumayan ngeri ngeri sedap dekat dekat dengan Revan. Manusia beremosi yoyo itu bisa kapan saja tiba tiba main pukul, dan dia perlu alasan kuat untuk itu. “Lumayan ngeri sih… Dua kali.”

“Haiyah… Baru juga dua kali, belum tiga kali.” Revan merenges jahil. “Kalau ampe tiga kali situ bakalan dapet gelas cantik tau nggak.”

“Huaaaahahaha…”

Ramai dan seru. Malam minggu ini mereka habiskan dengan ceria penuh keakraban dan canda tawa. Tapi… Di dalam keseruan dan canda tawa itu Arimbi tetap merasa hancur. Sakit itu semakin sakit tak terperi. Sekali bareng Bimo dan Anita sudah cukup membuat Arimbi hampir gila. Dua kali, mungkin Arimbi bakal benar benar gila. Mungkin…

oOo
Dan benar saja, malam ini batas kemampuan bertahan Arimbi sudah benar benar hancur. Bayangan kebersamaan mereka di alu alun tadi dengan sadis terus menghantui. Sudah habis cara Arimbi berusaha melupakan, tapi tetap saja… Tidak bisa.

Semakin ingin di lupakan, semakin Arimbi gila. Tanpa sadar, perlahan Arimbi bangkit dan melolosi satu persatu pakaian-nya. Dengan bertelanjang bulat, dia kemudian meringkuk sambil memeluk dan menciumi kenangan kenangan yang dia punya. Bahunya bergetar, Arimbi menangis.

“Bim… Tolong aku Bim… Tolong…” Guman-nya dalam isak pilu.

Hanya bayang bayang. Hanya itu yang sanggup Arimbi cumbui. Sekuat daya Arimbi berusaha menguatkan segenap indera tubuhnya, berusaha menyegarkan lagi kenangan yang pernah terjadi dengan Bimo, dulu. Iya… Kenangan dulu.

“Eeeegh!” Arimbi melengguh sesak, “apaan sih?! Dumelnya sambil berbalik mendorong Bimo dan langsung menghajar Bimo dengan bantal.

Bugh! Bugh! Bugh!

“Kampret! Slompret! Kutu kupret!” Maki Arimbi mengiringi amukan bantalnya. “Lepasin!” Arimbi menggeliat berusaha lepas dari kuncian Bimo.

“Minta maaf dulu.” Kata Bimo sambil semakin mengeraskan kunciannya.

“Sakit kampret!” Arimbi meringis kesakitan.

“Minta maaf!”

“Ogiah!”

“Cipok ni!”

“Coba aja!” Jawab Arimbi sambil melotot kesal.

“Nantangin?” Tanpa banyak omong, Bimo langsung mendaratkan bibirnya.

Di balik linangan air mata, sekilas Arimbi tersenyum. Kenangan dulu itu begitu indah. Walau kadang berantem dan sesekali menangis, tapi tetap saja judulnya… Mereka bahagia.

Tanpa sadar Arimbi menyentuh bibir-nya. Bibir itu, Bimo yang pertama mencuri ciuman pertama bibir itu. Perlahan rabaan Arimbi turun ke pinggang-nya. Di sana, Bimo yang pertama memeluk mesra. Rabaan Arimbi kemudian naik meraba sepasang buah dada-nya. Dan lagi lagi, Bimo yang pertama menyentuh bahkan lebih di sana.

“Udah kecil, pentilnya pakek mendelep lagi.” Dulu ledekan itu membuat Arimbi sakit hati. “Arimbi sih nggak usah di pacarin, hamilin aja langsung.” Celetuk Bimo dulu. “Coba aja kalau berani!” Dan sewot Arimbi dulu. Tapi sekarang… Aaaah! Kenangan dulu malah menusuk silih berganti.

Dengan tatap kosong nenerawang, perlahan Arimbi bangkit dan turun dari tempat tidurnya. Sebentar Arimbi mematut tubuh telanjang-nya di cermin. Di amati bayangan dirinya di sana. Di sekujur tubuh itu, Bimo yang sudah mengambil semuanya. Bimo yang berkuasa.

Hanya dia karena sampai saat ini belum ada yang kedua, bahkan Aditya sekalipun. Selamanya mungkin tidak akan pernah ada, dan Bimo tetap satu satunya.

Sejenak Arimbi terpejam dan kemudian… Buru buru Arimbi mengenakan lagi pakaian dan langsung berlari keluar dari kamar-nya. “Mau kemana Rim?” Tanya Pak Danu yang sedang asik menonton bola saat Arimbi mengunci pintu kamar.

“Ke Bimo Yah.” Sahut Arimbi sambil menggeloyor berlari.

Perduli setan. Harga diri Arimbi benar benar sudah tergadai. Kemampuan bertahan-nya sudah habis. Masa bodo mau di bilang cewek tidak tau malu atau apa. Yang jelas, yang Arimbi tau saat ini dia sangat butuh Bimo. Butuh… Sebelum Arimbi benar benar jatuh gila.

Bimo adalah milik-nya. Dari dulu begitu dan seharusnya tetap seperti itu. “Anita? Aditya?” Persetan dengan mereka. Masa bodooo…!

~~~oOo~~~

Bersambung

Author: 

Related Posts